24 C
Makassar
Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaHukrimKronologi Penangkapan Tiga Peserta May Day Makassar

Kronologi Penangkapan Tiga Peserta May Day Makassar

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Penangkapan terhadap demonstran yang memakai kaos hitam, Hari Buruh 1 Mey 2019 terus berlanjut di Makassar. Berdasarkan laporan dari Polrestabes Makassar, hingga kini sebanyak 21 orang telah ditahan.

DN, merupakan salah seorang ibu dari seorang demonstran yang ditangkap. Saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/5/2019) malam, ia bercerita, anaknya ditangkap pada Kamis sekira pukul 01.00 Wita dini hari.

Mulanya, DN tidur berdekatan dengan anaknya di depan ruang tamu. Saat suntuk malam, pintu depan rumah terdengar ketokan. Merasa kehadiran tamu, ia langsung membuka pintu.

Dihadapan dia, tampak dua orang berbadan besar berpakaian preman berdiri depan pintu. DN mengaku kaget.

Sementara di jalan depan rumah, ia melihat dua mobil dan setidaknya dua motor lebih terparkir. Walaupun DN tidak melihat atribut polisi, berupa seragam ataupun pistol, namun ia menyakini mereka semua adalah polisi.

“Banyak ki, ada naik mobil ada juga naik motor, lebih dua motor, pake baju preman semuaji tidak ada yang pakai baju polisi,” ujarnya.

Kata dia, kedua polisi tersebut lantas menanyakan jumlah keluarga dalam rumah DN. DN hanya menjawab singkat; “banyak.” Sembari menunjuk, polisi kembali menanyakan nama yang tengah tidur di ruang tamu, saat itulah DN menyebut nama anaknya.

Setelahnya, pihak kepolisian menanyakan keikutsertaannya pada demonstrasi Hari Buruh. Melalui cerita DN, anaknya saat itu mengakui ikut serta berdemo bersama dengan buruh lain.

Setelahnya, menurut kesaksian DN, tanpa memperlihatkan surat penangkapan, pihak kepolisian langsung menangkap anaknya. Polisi pun membawa barang bukti berupa motor dan tas yang ditemukan dalam bagasi motor tanpa memperlihatkan surat penyitaan barang bukti.

Keterangan DN, polisi saat itu mengatakan anaknya akan dibawa ke kantor Polrestabes Makassar sebagai saksi. Namun hingga tiga hari setelahnya hingga berita ini ditulis, anak DN tak kunjung dibiarkan pulang.

BACA JUGA :  Hari Buruh, KSN Tuntut Cabut UU Ketenagakerjaan

Sementara itu, NP selaku saksi penangkapan saat ditemui di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Jumat (3/5/2019) malam, turut mengisahkan kesaksiannya. Ia mengatakan, pada malam Jumat (3/5/2019) dini hari, sekira pukul 02.30 Wita, tujuh orang berpakaian preman menyambangi pondokan tempat ia tinggal di daerah Kecamatan Manggala. NP mencurigai, mereka adalah polisi.

Dalam pondokan tersebut, ia tengah bersama enam orang temannya. Ketika polisi masuk, kata NP, mereka tidak memperlihatkan identitas mereka sebagai pihak berwajib. Tanpa basa-basi, polisi langsung meminta ketujuh orang tersebut untuk berdiri dan meletakkan gawai masing-masing.

Nama mereka ditanya satu-satu, ketika tiba pada giliran temannya, IM. IM lantas dipisah dan digiring oleh tiga polisi ke kamar sebelah. Pihak kepolisian pun langsung menggeledah kamar tersebut, setidaknya tiga kamar ikut digeledah, termasuk kamar IM.

“Buku-bukunya IM, Hp, sama ATM dibawa polisi,” ujar NP.

Pihak kepolisian sempat memperlihatkan surat dalam map kepada teman-teman IM. Namun mereka tak dibiarkan untuk membaca, hanya sekilas dibuka. Hingga IM digelandang polisi pada pukul 03.00 dini hari, NP mengaku sama sekali tidak pernah diperlihatkan surat penangkapan IM.

Setelahnya, NP bersama temannya melapor ke LBH Makassar siang harinya.

Kasus penangkapan berbeda, Herman selaku kepala asrama pondokan di daerah Perintis Kemerdekaan mengatakan, sekitar pukul pukul 03.00 subuh, Jumat (3/5) kemarin, sekitaran 10 orang tanpa identitas menggerebek pondokan asramanya. Namun Herman menduga mereka ada polisi karena berbadan besar dan berambut gondrong. (Selanjutnya juga disebut polisi)

Pihak kepolisian menyebut seorang nama, SG. Namun karena Herman tidak mengenal nama tersebut, polisi lantas menyebut kampus SG kuliah. Herman pun memberitahukan polisi ada seorang anak asrama yang tinggal dilantai dua dengan ciri yang dimaksud polisi.

BACA JUGA :  Sulsel Rayakan May Day dengan Gerak Jalan Santai dan Malam Ramah Tamah 

Herman mengaku tak ikut menemani polisi menjumpai SG, ia hanya menunggu di depan kamarnya bersama dengan sejumlah polisi lain. Sekitan 30 menit berselang, SG dibawa polisi.

Berdasarkan kronologi yang dicatat oleh LBH Makassar, kamar SG digedor-gedor oleh teman asrama berdasarkan perintah polisi. Setelah pintu dibuka, sekitar 4-5 polisi segera masuk kamar. Seorang polisi dengan sajam berdiri di tengah kamar.

SG langsung diinterogasi. Kamarnya pun digeledah tanpa diperlihatkan surat penggeledahan. Setelahnya, polisi menyita dua buku dan hp milik SG. SG lantas dibawa menggunakan mobil avanza berwarna putih.

Penangkapan para demostran Hari Buruh 1 Mei kini masih dalam penanganan LBH Makassar.

Penulis: Agus Mawan

spot_img

Headline