28 C
Makassar
Kamis, Mei 19, 2022
BerandaRagamLiburan ke Rammang-rammang,Kini Dilengkapi Wisata Edukasi Sejarah

Liburan ke Rammang-rammang,Kini Dilengkapi Wisata Edukasi Sejarah

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata perbukitan kars di Rammang-rammang, kini sudah bisa menambah pengetahuan tentang lanskap dan situs arkeologi dan sejarah terbentuknya perbukitan kapur itu.

Hal itu atas inisiasi departemen arkeologi Unhas yang mengajak Komunitas Anak Sungai Rammang-rammang, bersama beberapa mitra terlibat yakni Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel, Flora Fauna Internasional, Geopark Maros Pangkep dan BKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Sulsel, yang melatih melatih masyarakat dalam memandu wisatawan.

Menurut ketua tim pengabdian Masyarakat dari Departemen Arkeologi FIB Unhas Iwan Sumantri, selama ini, pengunjung tidak mendapat pengetahuan apa-apa, hanya panorama yang berulang-ulang.

“Padahal, itu butuh pengetahuan, terutama kaum milenial, sehingga pemandu wisata yang kami latih bekerja sama dengan multisektoral , karena tidak zaman lagi bekerja sendiri-sendiri,” ungkap Iwan.

Dalam konteks keilmuan, kat Iwan, ada dua situs yang memberi bukti keberadaan orang-orang ke kawasan ini. Selain itu, konteks lingkungan kars Rammang-rammang adalah lingkungan endemik, flora dan fauna endemik.

“Kalau itu hilang maka bisa menjadi peringatan bagi penduduk saat ini,” jelas Iwan.

Pihaknya juga memberi buku saku bagi pemandu berjudul wisata arkeologi Rammang-rammang, yang berisi tentang proses pembentukan kars, terbentuknya gua-gua, penghunian gua-gua masa prasejarah, gua-gua prasejarah yang memperlihatkan cap tangan manusia prasejarah di dinding gua-gua, serta flora dan fauna endemik setempat.

Fardi Ali Syahdar, projek manager Flora Fauna International (FFI) Indonesia Programe Maros.

Menyebutkan, pihaknya memang menerima kerja sama dengan Arkeologi Unhas ini, karena memiliki kesamaan BKSD, seperti denplot Perhatinan organik, Biodoversiti Rammang-rammang, serta mengawal proses trainingnya di kampung.

Beberapa fauna endemik yang ada di Rammang-rammang diantaranya Julang Sulawesi, Rangkong, spesifik ke burung-burung di kawasan.

“Sementara untuk pertanian sawah menggunakan bahan baku, kembangkan fokus ke denplot. Kegitan ini adalah praktik kerja berbasis masyarakat, juga konservasi dan anemo masyarakat sangat tinggi,”

Soal kars, kata Fardi, pihaknya mencoba dekatkan masyarakat dengan kars, lalu kumpul sampah indentifikasi, sekaligus menyampaikan pesan tempat banyak sampah dan itu bukan hal yang wajar. Mungkin karena aktivitas kunjungan, sehingga masyarakat setempat terutama anak-anak yang sudah paham dengan sampah non organik, bisa menegur pengunjung yang membuang sampah sembarangan, tanpa adanya ketersinggungan.

“Untuk pemilahan sampah ini ada
15 orang dan pelatihnnya berjalan selama 3 bulan,” tandasnya.

spot_img
spot_img

Headline

IDR - Rupiah indonesia
USD
14.498,6
EUR
15.293,3
JPY
111,0
KRW
11,4
MYR
3.317,5
SGD
10.465,3