MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Setiap tanggal 1 April pemerintah kota Makassar selalu menjadikan momentum peringatan hari kebudayaan Nasional.
Tahun ini, hari kebudayaan jatuh pada hari ini, Rabu (1/4/2020). Akan tetapi perayaan hari kebudayaan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Jika tahun-tahun sebelumnya peringatan hari kebudayaan selalu diwarnai parade dan kemeriahan, tahun ini justru sepi akibat dari menyebarnya Covid-19 di kota Makassar.
Meski begitu, hari kebudayaan tahun ini akan tetap berlangsung dengan nuansa tradisional. Hanya saja dilakukan secara individu, sebab tidak ada momen yang sifatnya mengumpulkan orang banyak dalam satu tempat.
Sebagai gantinya, masyarakat diimbau untuk tetap memutar musik tradisional, mengenakan pakaian adat tradisional, dan mengkonsumsi makanan tradisional.
“Jadi nanti di tanggal (1/4/2020) itu kita sarankan masyarakat menggunakan pakaian adat dalam beraktivitas. Selain itu, dianjurkan juga untuk mengkonsumsi makanan dan minuman tradisional.”
“Ini sifatnya tidak wajib ya. Jadi kami hanya menyarankan, sebaiknya dilakukan. Jangan juga nanti cuma di rumah terus pakai pakaian adat, tidak begitu juga,” ujar Herfida, selaku perwakilan Disbud kota Makassar.
“Penggunaannya bisa di kantor. Jadi perlu diingat, bahwa tidak ada aktivitas perkumpulan di momentum itu,” tegas Herfida dalam agenda konferensi pers.
Yang paling unik, pemerintah kota Makassar melalui surat edaran nomor 430/87/s-edar/DISBUD/III/2020 Perihal Hari Kebudayaan dan Bulan Budaya kota Makassar, salah satu poinnya menyarankan untuk memutar instrumen musik tradisional selama satu bulan penuh.
Pemutaran instrumen tersebut bakal dimulai pada tanggal (1/4/2020) sampai pada akhir bulan April, sebagai bentuk kecintaan akan keragaman budaya di Indonesia.
Menurut kurator hari kebudayaan kota Makassar, Wawan, pemutaran lagu tersebut nantinya bisa dilakukan di mana saja, baik rumah, kantor, atau tempat-tempat lain.
Selain itu Wawan menyampaikan jika instrumen lagu yang harus diputar selama satu bulan penuh tersebut tidak ditentukan oleh pemerintah, sehingga masyarakat bebas memilih lagu tradisional apa saja yang akan diputar.
“Untuk lagu itu tidak kami tentukan. Terserah masyarakat mau putar lagu tradisional apa saja. Karena masyarakat kita ini kan tidak hanya Bugis-Makassar, jadi peringatan hari kebudayaan kota Makassar ini tidak mengikat harus lagu Makassar yang diputar.”
“Begitu juga dengan makan tradisionalnya, tidak harus makanan khas Makassar. Ini untuk menghargai keragaman budaya yang ada di Indonesia,” terang Wawan.



