28 C
Makassar
Sabtu, Januari 22, 2022
BerandaEntertainmentMovieReview film James Bond No Time to Die

Review film James Bond No Time to Die

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COMNo Time to Die pada 30 September 2021, film kelima sekaligus terakhir dari Daniel Craig sebagai James Bond ini akhirnya resmi dirilis di bioskop sejumlah negara, termasuk Indonesia. Film ini pun melanjutkan konflik yang ada di film sebelumnya, yaitu Spectre (2015).

Sinopsis No Time to Die mengisahkan James Bond yang menjalani masa pensiunnya usai berhasil memenjarakan Ernst Stavro Blofeld (Christoph Waltz) selaku pemimpin organisasi SPECTRE. Namun, tiba-tiba muncul masalah baru di mana ada senjata biologis yang mengancam umat manusia dan berkaitan dengan SPECTRE.

Hal ini kemudian membuat Bond akhirnya sekali lagi beraksi buat menghentikan hal tersebut.

Nah, sebelum kalian nonton film No Time to Die di bioskop, simak terlebih dahulu ulasannya di bawah ini!

Review film James Bond No Time to Die
Review film James Bond No Time to Die Via Dok. MGM Productions

Seperti yang sempat dibahas di bagian pembuka, James Bond menikmati masa pensiunnya setelah berhasil mengalahkan Blofeld selaku pemimpin SPECTRE di film sebelumnya. Namun, Bond tak sendirian, karena dia ditemain oleh Madeleine Swann (Léa Seydoux) yang kini sudah resmi jadi pasangan hidupnya. Sayangnya, kehidupan tentram keduanya terganggu ketika mereka diserang oleh sekelompok orang misterius.

Bond pun menduga kalau pihak yang menyerang mereka merupakan orang dari masa lalu Swann yang belum pernah diungkapkan kepadanya. Hal ini pun akhirnya membuat Bond memilih buat memisahkan diri dengan Swann dengan meninggalkan sang cewek di sebuah stasiun kereta.

Lima tahun setelah kejadian yang melibatkan Swann, Bond yang masih pensiun didatangi oleh agen CIA sekaligus temannya yang ingin merekrut dia buat sebuah misi. Tugas tersebut adalah untuk menyelamatkan seorang ilmuwan dari sebuah program senjata biologis milik MI6 bernama “Heracles”. Ilmuwan tersebut pun diculik oleh sebuah kelompok misterius yang juga mengambil senjata biologis buatan MI6 tersebut.

Namun, misi penyelamatan ilmuwan tersebut justru menjadi sebuah hal yang tak diduga-duga oleh Bond. Soalnya, kelompok misterius yang terlibat dalam penculikan tersebut ternyata berhubungan dengan organisasi SPECTRE dan juga masa lalu Madeleine Swann. Bond pun akhirnya terpaksa untuk berhenti dari masa pensiunnya buat menyelesaikan masalah yang berasal dari masa lalunya sekaligus Swann.

Hubungan James Bond dan Madeleine Swann Jadi Daya Tarik

Dalam sejumlah film James Bond, kita hampir selalu ditampilkan dengan sosok Bond Girl, sebutan bagi karakter cewek yang jadi love interest atau setidaknya punya peran penting bagi misi yang dijalani James Bond. Terlepas dari hubungan dekatnya dengan para Bond Girl, James Bond bisa dibilang tak pernah memiliki hubungan yang sangat terikat atau penuh komitmen dengan mereka.

Akan tetapi, hal tersebut enggak berlaku bagi sosok Madeleine Swann yang telah menjadi Bond Girl di dua film, yaitu Spectre dan juga No Time to Die. Soalnya, selepas aksinya di Spectre, Swann tetap menjalin hubungan asmara dengan James Bond. Malahan, hubungan mereka berada di tahap yang sangat serius sampai-sampai Bond rela pensiun sebagai agen MI6 hanya demi menjalani hidup tenang bersama Swann.

Nah, hubungan keduanya pun menjadi daya tarik utama dalam film No Time to Die. Soalnya, ini mungkin pertama kalinya Bond terlihat memiliki hubungan penuh komitmen dengan seorang cewek sepanjang penampilannya di layar lebar. Apalagi, masa lalu keduanya membuat hubungan mereka memiliki konsekuensi besar yang kemudian menjadi konflik utama dalam film ini.

BACA JUGA :  Viral, Video Iklan Batal Tayang Karena Ada Penampakan

Lewat No Time to Die, kita akan disajikan dengan penampilan Rami Malek sebagai villain utamanya, yaitu Lyutsifer Safin. Karakter yang satu ini merupakan sosok dari masa lalu Madeleine Swann yang datang kembali buat memanfaatkan sang cewek demi suatu tujuan yang jahat. Tujuan tersebut adalah buat menewaskan jutaan orang di Bumi dengan menggunakan sebuah senjata biologis.

Rami Malek pun bisa dibilang sukses memerankan sosok Lyutsifer Safin di film ini dan menjadikannya salah satu villain memorable di waralaba James Bond. Soalnya, Safin digambarkan sebagai villain yang “sopan”, dalam arti selalu bertutur kata halus dan tak pernah bertindak emosional seperti villain pada umumnya.

Meski begitu, kehadirannya tetap selalu memberikan nuansa yang sangat mengancam, bahkan ketika dia duduk diam sekalipun. Selain itu, tujuan Safin buat membunuh jutaan orang juga bukan karena faktor yang berbau politik atau semacamnya, melainkan hanya ingin “merapikan” dunia.

Penampilan Lashana Lynch dan Ana de Armas yang Badass

Review film James Bond No Time to Die
Review film James Bond No Time to Die Via Dok. MGM Productions

Pada film No Time to Die, kita diperkenalkan dengan dua karakter cewek baru, yaitu Nomi serta Paloma yang masing-masing diperankan oleh Lashana Lynch dan Ana de Armas. Keduanya pun digambarkan sebagai cewek badass yang terlibat di sejumlah adegan pertarungan. Hal ini karena keduanya merupakan agen dari sebuah badan intelejen.

Sosok Nomi yang diperankan Lynch digambarkan sebagai anggota MI6 yang bergabung dengan program agen 00 yang kemudian memakai kode 007 usai James Bond pensiun. Skill-nya sebagai 007 yang baru pun enggak kalah memukau dengan James Bond sehingga jadi aset penting buat menjalani misi di film ini. Tak cuma itu, kepribadian Nomi juga sama elegannya dengan Bond sehingga memang layak jadi penerusnya.

BACA JUGA :  Cerita Spesial Kolaborasi Rich Brian, NIKI, dan Warren Hue dalam Shang-Chi

Lalu, penampilan Ana de Armas sebagai agen CIA bernama Paloma yang membantu Bond di film ini juga sukses jadi scene stealer karena sikapnya yang badass, tapi lugu nan menggemaskan. Sayangnya, porsi Armas sebagai Paloma di film ini terbilang sangat sedikit karena hanya muncul di satu misi saja. Jadi, buat kalian yang niat nonton No Time to Die cuma buat melihat Ana de Armas kemungkinan akan sangat kecewa.

Film Terpanjang James Bond

No Time to Die memiliki total durasi 163 menit atau 2 jam 43 menit. Hal ini pun membuat No Time to Die menjadi film dengan durasi paling panjang ketimbang seluruh film James Bond sebelumnya. Akan tetapi, menurut KINCIR durasi tersebut terlalu panjang karena sebenarnya ada beberapa adegan yang tak terlalu penting dan justru bikin ceritanya lebih rumit buat dimengerti.

Namun, ada juga keuntungan dari durasinya yang sangat panjang tersebut. Sebab, kita disajikan dengan lebih banyak adegan aksi dari James Bond dalam film ini. Kalian yang suka dengan genre aksi dijamin akan sangat puas dengan sejumlah momen tembak-tembakan yang ada di film ini. Apalagi, adegan aksi tersebut benar-benar dihadirkan non-stop dari awal hingga akhir filmnya.

Persembahan Terakhir Daniel Craig yang Epik

Seperti yang kita ketahui, Daniel Craig telah menjadi James Bond sejak film Casino Royale (2006). Setelah memerankan karakter tersebut selama lebih dari satu dekade, Craig pun akhirnya akan mengakhiri perjalanannnya sebagai James Bond lewat film No Time to Die ini.

Tanpa membocorkan plotnya, harus diakui bahwa ending James Bond versi Craig diakhiri dengan sangat epik. Tak cuma itu, terdapat juga momen mengharukan yang bernuansa kekeluargaan sebelum akhirnya kita berpisah dengan James Bond versi Craig. Kalau bisa dibilang, Craig benar-benar mengakhiri pejalanannya dengan sempurna sekaligus meninggalkan sebuah warisan yang besar bagi waralaba ini.

BACA JUGA :  Roy Marten Mengaku Positif Covid, Gading : Fight

Secara garis besar, No Time to Die menjadi penutup yang sempurna sekaligus penuh aksi bagi perjalanan Daniel Craig sebagai James Bond. Kalau kalian sudah mengikuti perjalanan Craig sebagai sang agen 007 sejak awal, maka film ini wajib banget buat kalian tonton ketika rilis di bioskop mulai 30 September 2021. Namun, tentunya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, ya! (Kincir)

BACA JUGA

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.318,8
EUR
16.268,5
JPY
123,9
KRW
12,0
MYR
3.401,9
SGD
10.563,6