SULSELEKSPRES.COM – Pelaku usaha mulai menaikkan harga sekitar 5 persen sampai kurang dari 10 persen sebagai konsekuensi atas depresiasi rupiah terhadap dolar AS di sepanjang tahun lalu, demikian ungkapan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI).
Saat ini, menurut Wakil Ketua Umum GAPMMI Rahmat Hidayat, sebagian besar bahan baku industri makanan dan minuman adalah impor. Karenanya, pembayaran banyak dilakukan dalam bentuk dolar AS.
BACA: Pajak Selebgram dan Youtuber Capai Rp2,7 Miliar
Secara rinci, 70 persen dari bahan baku industri makanan kata Rahmat masih didatangkan dari luar negeri, seperti gula dan garam industri hingga tepung terigu.
“Kalau dicek di gerai ritel, sebenarnya sudah ada penyesuaian harga di bulan ini dengan kisaran 5 persen hingga kurang dari 10 persen kira-kira. Ini rerata untuk seluruh produk makanan dan minuman,” ujarnya, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (16/1/2019).
Walau demikian, kenaikan harga ini menurut Rahmat, masih relatif aman. Sebab, tentunya pengusaha kata dia akan mengerek harga jualnya dengan angka yang tidak terpaut jauh dari inflasi.
BACA: Sembilan Makanan Penambah Umur Panjang
Lebih dari itu, Rahmat menilai tingkat kenaikan harga ini juga masih di dalam rentang depresiasi nilai tukar rupiah sepanjang tahun lalu. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terdepresiasi 6,93 persen sepanjang 2018.
“Kami selalu manage (atur) kenaikan harga kami, harus jangan terlalu jauh dengan inflasi,” terang dia.
BACA: 6 Makanan Khas Sulsel Bisa Bikin Lidah Bergoyang
Pun begitu, Rahmat memprediksi, harga produk makanan dan minuman tahun ini tidak akan naik kembali. Sebab, mengutip perkiraan beberapa ekonom, rupiah diproyeksi tidak akan bergejolak tajam. Ini lantaran bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed diramal tak akan terlalu agresif dalam melakukan kebijakan moneter di tahun ini.
Hanya saja menurut Rahmat, permintaan makanan dan minuman mungkin akan sedikit tertantang karena pola konsumsi masyarakat mulai berubah. Ia bilang konsumen mulai sadar dengan aspek kesehatan, sehingga mengurangi konsumsi produk industri makanan dan minuman.



