23 C
Makassar
Kamis, Desember 8, 2022
BerandaHukrimKPK Supervisi Penanganan Kasus Korupsi RSKDIA Siti Fatimah Makassar

KPK Supervisi Penanganan Kasus Korupsi RSKDIA Siti Fatimah Makassar

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELESPRES.COM — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan supervisi penanganan perkara korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak (RSKDIA) Siti Fatimah Makassar yang sedang ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Rabu (2/11/2022).

Adapun bentuk supervisi yang dilakukan yaitu fasilitasi kehadiran dua ahli di persidangan untuk memperkuat pembuktian dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejati Sulsel.

“KPK memberikan supervisi perkara ini agar penanganan bisa berjalan lebih lancar, berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan KPK Nomor 4 Tahun 2022, ” kata Direktur Koordinasi dan Supervisi Wilayah IV KPK Jarot Faizal.

BACA JUGA :  Suap Walkot Tegal, KPK Ingatkan Incumbent

Jarot menjelaskan, pada supervisi ini, KPK menghadirkan dua orang ahli di persidangan pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Makassar. Yaitu Ahli Pengadaan Barang dan Jasa dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Fahrurozi pada persidangan Senin (31/10). Kemudian, Auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Triyo pada persidangan Selasa (1/11/2022).

“Kedua Ahli yang dihadirkan KPK dalam pendapatnya telah memperkuat dakwaan Jaksa Penuntut Umum,”ujar Jarot.

BACA JUGA :  KPK Tetapkan 2 Tersangka Gedung IPDN Sulsel

Sebelum sampai tahap persidangan, KPK juga telah melakukan supervisi kasus korupsi pengadaan alkes RSKDIA Siti Fatimah ini sejak penyidikan di Polda Sulsel.

“Perkara tersebut merupakan perkara supervisi KPK tahun 2022 pada Polda Sulawesi Selatan,” ujar Jarot.

Kasus ini muncul ketika RSKDIA Siti Fatimah yang merupakan rumah sakit milik Pemprov Sulsel melakukan pengadaan berbagai jenis alkes pada 2016, dengan total anggaran sekitar Rp20 miliar. Namun, setelah itu diketahui terdapat dugaan korupsi pada pengadaan tersebut, karena membeli dari pasar gelap yang disertai _mark up_ harga alkes di dalamnya.

Pelaksanaan koordinasi dan supervisi ini merupakan bentuk sinergi antara KPK dan Aparat Penegak Hukum lain dalam penuntasan perkara korupsi. Hal ini juga sejalan dengan Pasal 6 huruf d Undang-Undang No. 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang mengamanatkan tugas KPK dalam supervisi dengan instansi yang berwenang melaksanakan tindak pidana korupsi.

Sebagai bagian tugas supervisi perkara, selain dapat mengambil alih perkara, KPK juga dapat melakukan fasilitasi penanganan perkara korupsi, seperti pencarian DPO, pemeriksaan fisik, pelacakan aset, pemberian keterangan ahli, dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan, yang ditanggung biayanya oleh KPK

spot_img

Headline

Populer