25 C
Makassar
Kamis, Januari 27, 2022
BerandaEdukasiRatusan gen-Z Sulawesi dan Maluku Ikuti Kelas Literasi Damai

Ratusan gen-Z Sulawesi dan Maluku Ikuti Kelas Literasi Damai

- Advertisement -

Kegiatan yang dilaksanakan pada jam makan siang tidak meruntuhkan semangat peserta. Malah, mereka menunjukkan gairah dalam mengikuti kegiatan online ini. Selama kelas, mereka berusaha mendapatkan pemahaman yang utuh dari materi yang disampaikan. Apalagi, mereka tahu, materi ini berguna agar mereka bisa melakukan tugas mulia, yaitu sebagai aktor perdamaian, khususnya di media sosial.

Hari pertama, gen-Z Sulawesi dan Maluku dibekali materi literasi agama dan budaya serta literasi damai. Materi literasi agama disampaikan oleh Musdah Mulia, cendekiawan Muslimah yang merupakan founder dari Mulia Raya Foundation. Sedangkan, materi literasi damai disampaikan oleh aktivis perdamaian asal Aceh, Suraiya Kamaruzzaman. Keseluruhan hari pertama menjadi momen yang melekat di hati Hasbiyah.

Perempuan berusia 19 tahun ini berkata, materi literasi agama dan budaya sangat membuka wawasannya, khususnya dalam menghargai agama-agama lokal yang ada di Indonesia.

BACA JUGA :  Baru Dilantik, Husain Syam Beri Gebrakan Baru

Keesokan harinya, peserta disuguhi materi literasi digital yang dibawakan Indriyatno Banyumurti dan literasi keadilan gender dengan Olin Monteiro. Bagi Rispa Sari, hari kedua meninggalkan jejak yang hilangnya akan lama. “Materi keadilan gender yang membekas di hati saya, Kak,” ketika ditanya pendapatnya tentang materi di hari ketiga.

Memasuki hari ketiga, kali ini generasi Z marathon tiga materi sekaligus: berpikir kritis oleh Eko Prasetyo, team building & Gerakan Sosial oleh Lian Gogali, dan menulis human interest story bersama Sopian Thamrin. Meski waktu tak memihak pada siapapun, justru hari ketiga menjadi pengalaman tak terlupakan bagi banyak peserta.

Misalnya Nur Anisa, peserta asal Gowa. Dia terkesan dengan semua materi di hari ketiga. Menurutnya, ketiga materi itu mengajarkannya untuk berani mengutarakan pendapat, belajar membangun tim dari kekuatan personal masing-masing, dan memantik emosi lewat tulisan kita. Di kelas, Nur memang membuka diri bahwa dirinya seorang introvert.

Bagi Ade Kezia sebaliknya, dia lebih suka dengan materi Lian Gogali tentang membangun tim. “Kita belajar bagaimana tips membuat gerakan sosial, cara mengkomunikasikan agar gerakan itu bisa terbentuk dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam materi itu, saya merasa tertantang untuk mengomunikasikan ide dan gerakan saya.” tuturnya.

BACA JUGA
spot_img

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.318,8
EUR
16.268,5
JPY
123,9
KRW
12,0
MYR
3.401,9
SGD
10.563,6