31 C
Makassar
Rabu, Juli 6, 2022
BerandaMetropolisKomisi B Pantau Harga Sembako di Dua Pasar Tradisional

Komisi B Pantau Harga Sembako di Dua Pasar Tradisional

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Komisi B DPRD Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) di dua pasar tradisional yakni di Pasar Sentral Kabupaten Maros dan Pasar Terong Kota Makassar guna memastikan harga beras yang mengalami fluktuasi harga.

“Dari pasar di Maros sampai pasar Terong kita temukan harga beras kenaikannya tidak terlalu besar. Saya kira masih wajar, harga beras super di Maros sekitar Rp 10.000 per kilogram dan di Makassar Rp 12.000 per kilogram, mungkin karena jarak transportasi, ” ungkap Ketua Komisi B DPRD Sulsel, Jamaluddin Jafar, di Maror Rabu (24/1/2018).

Untuk beras medium, lanjutnya, harga di dua pasar yang di datangi sedikit berbeda. Di Maros hartga dibawah Rp 8.000 per kilo gram dan di Makassar Rp 10.000 per kilogram. Menurutnya ada tiga jenis beras dengan harga berbeda melihat dari kualitas masing-masing yakni super, premium dan medium.

“Harga tertinggi untuk beras super antara Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per kilogram sebelumnya Rp 10.000 per kilogram, premium Rp 10.000 sampai Rp 11.000 sebelumnya Rp 9.500 dan medium antara Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kilogram sebelumnya Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Untuk Maros lebih murah dibandingkan Makassar, ini mungkin disebabkan biaya transportasi,” jelasnya.

Mengenai dengan impor beras yang akan dilakukan Pemerintah Pusat, pihaknya menegaskan Sulawesi Selatan tidak menerima beras impor mengingat Sulsel merupakan daerah penghasil beras. Kendati ada kenaikan harga, kata dia, tidak terlalu signifikan dan tidak memperangaruhi stabilitas pasar.

“Menurut saya tidak perlu masuk operasi pasar, tidak perlu juga menerima beras impor, karena stok beras kita aman. Diperkirakan bulan dua dan tiga harga sudah mulai normal, sesuai dengan percakapan kami dengan pedagang di dua pasar tersebut. Kenaikan harga ini bisa saja karena faktor cuaca dan hal lainnya. Di Sulsel itu setahu saya tidak pernah mengikuti harga pasar di Jawa, karena lumbung padi, ” tambahnya.

BACA JUGA :  Komisi B DPRD Sulsel Dorong Pemprov Perjalas Lahan di CCC

Mengenai dengan kenaikan harga beras di akhir tahun dan awal tahun yang menjadi fenomena tiap tahun, pihaknya menyarankan pemerintah segera mengantisipasi berdasarkan pengalaman lonjakan harga mulai Desember hingga Januari. Selain itu Bulog sebagai pengendali beras harus menetralkan harga agar tidak terjadi hal serupa di tahun depan.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Tradisional Terong Makassar, Haris mengakui, harga beras mengalami kenaikan dari Desember 2017 hingga Januari 2018. Meski begitu kenaikan harga akan normal kembali antara bulan Februari-Maret. Kenaikan tersebut dikerenakan stok berkurang dan permintaan tinggi dari pulau Jawa.

“Beras rata-rata dari Sidrap, dijual disini bervariatif mulai beras Super sampai medium. Memang ada kenaikan harga. Kalau terkait dengan upaya pemerintah yang menstabilkan harga beras medium Rp 9.450, rata rata pedagang menjualnya diatas Rp 9.000 per kilogram. Tetapi pedagang tidak semua mengambil beras dari Bulog karena kualitasnya tidak terlalu bagus mungkin terlalu lama disimpan di gudang,” pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah pada kesempatan itu menuturkan hasil kunjungan lapangan di dua pasar tradisional tersebut, khusus harga beras di Sulsel masih relatif stabil atau masih terkendali. Artinya, harga dengan stok masih dikuasai Bulog Sulsel serta jangkauannya masih jauh sekali, ketahanan beras bisa mencapai 10 bulan kedepan.

“Pada priode Januari, Februari, Maret kita bisa mulai lagi panen. Harga yang ada di Sulsel berdasarkan pantauan berada pada zona terbaik dari provinsi dari daerah provinsi lain. Harga Eceran Tertinggi atau HET ditetapkan pemerintah masih dibawah Rp 9.450 per kilo gram untuk jenis kualitas medium,” paparnya.

Selain itu, Sulsel sebagai daerah produsen beras mensuplai juga ke provinsi lain, bahkan sebanyak 28.000 ton data disuplai ke provinsi lain atau daerah yang kurang sebagai bagian dari mendukung program ketersediaan pangan.

BACA JUGA :  Komisi B DPRD Sulsel Dorong Pemprov Perjalas Lahan di CCC

“Untuk antisipasi kedepan terkait saran dari Komisi B, tahun berikutnya skenario ‘Early Warning Sistem’ atau deteksi dini lebih awal kondisi-kondisi pada priode yang dianggap terjadi kenaikan. Harga kenaikan ini kan nasional,” katanya.

Hadi mengemukakan Fokus pada perencanaan kedepan, barometer harga beras tidak lagi ke pasar Cipinang Jakarta sebagai penentu harga awal, mengingat Sulsel sudah over stok dua juta ton bahkan dipasok ke seluruh wilayah Indonesia Timur dan provinsi lain. Pihaknya berharap Pemerintah Pusat bisa melihat ini sebagai salah satu rekomendasi bahwa Sulsel sebagai lokomotif penggerak di timur untuk dukungan infrastuktur perdagangan beras.

Penulis: Abdul Latif

spot_img
spot_img

Headline