33 C
Makassar
Monday, May 27, 2024
HomeDaerahPersentase 21,1% Stunting Gowa Ternyata Bukan Angka Riil Tapi Hasil Survei

Persentase 21,1% Stunting Gowa Ternyata Bukan Angka Riil Tapi Hasil Survei

- Advertisement -

Laporan Reportase (2): Nursyahril Daeng Se’re

Melanjutkan penelusuran sulselekspres.com terkait program TPPS Gowa, tujuan awal bertemu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa. Karena yang dituju sedang ada pertemuan di Kejaksaan, akhirnya saya putuskan ke Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Gowa.

Letak kantor kedua dinas berdampingan, tidak sampai lima menit sudah sampai di kantor tersebut. Karena Kadisnya sedang rapat lewat zoom di ruangannya, oleh staf saya diminta menunggu.

Menunggu sekira 30 menit, staf akhirnya mengarahkan saya bertemu Sofyan Daud, Kadis PP dan KB yang juga Sekretaris TPPS Gowa.

Dinas PP dan KB adalah salah satu instansi yang terkait langsung dengan prevalensi stunting. Karena itu pertanyaan pertama, apa program yang langsung menyentuh penurunan jumlah stunting?

Sofyan Daud mengawali dengan memberikan pemahaman bahwa lembaga yang dipimpinnya lebih kepada perubahan perilaku dengan maksud mencegah supaya tidak muncul stunting stunting baru. Sedangkan balita yang sudah masuk kategori stunting penanganannya di Dinas Kesehatan.

“Jadi kami lebih kepada memberikan edukasi kepada masyarakat supaya pola makannya bisa baik, karena masalah ini menyangkut konsumsi makanan,” kata Soyan.

Memperbaiki pola makan dan apa yang dikonsumsi oleh masyarakat khususnya ibu hamil, menurut Sofyan sangat berpengaruh kepada kesehatan. Jika ibu hamil mengkonsumsi makanan yang kurang bergizi bisa berakibat energi kronik.

“Inilah yang kami edukasi supaya ibu hamil mengubah pola makan agar anak yang nanti dilahirkan tidak stunting,” jelasnya.

Lebih jauh Sofyan menuturkan upaya saat ini adalah bagaimana tidak muncul angka stunting baru. Karena itu sasaran diperluas mulai dari hulu yaitu ke para gadis calon pengantin jangan sampai kurang gizi.

Apa yang disampaikan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan terutama untuk mencegah bahkan memutus munculnya prevalensi stunting baru.

Namun kembali ke pertanyaan awal, bagaimana dengan angka dan kasus yang sudah ada karena program ini adalah percepatan penurunan angka bukan hanya sekadar penurunan persentase?

Sebelum sulselekspres.com menemui SKPD pemilik program, sempat berbincang bincang dengan beberapa kader. Dari perbincangan itu muncul kalimat yang terkesan keluhan mereka.

Kader ini secara bergilir bertugas memberi makan anak stunting. Uniknya bahan yang akan dimasak sumbernya dari mereka juga. Ketika ditanya kenapa mereka urunan bahan makanan, apakah tidak ada dana yang diberikan? Dijawab, tidak pernah ada dana yang turun. (-red perbincangan awal 2023).

Menanggapi hal itu, Sekretaris TPPS Gowa ini menerangkan bahwa konsep program penurunan stunting.adalah gotong royong. Kemudian program yang spesifik menyentuh anak stunting ada anggarannya di beberapa dinas khususnya Dinas Kesehatan.

“Contoh di Dinas Kesehatan ada program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diperuntukkan bagi anak gizi kurang lebih-lebih gizi buruk, ada anggarannya,” katanya.

Lanjut Sofyan, di dinasnya tidak ada program seperti itu. Namun dia menyadari bahwa persoalan stunting adalah persoalan kekurangan makan.

“Kalau kami menunggu petugas yang ditugaskan kasih makan maka ini tidak jalan,” tukasnya.

Dengan pertimbangan itu Sofya mengaku melakukan inisiatif membuat program Dashat (Dapur sehat atasi stunting).

“Kami yang bentuk Dashat bekerja sama dengan kader-kader kami, kader PKK, PLKB, karena persoalan makan adalah persoalan yang mendesak,” ujarnya.

Ternyata bicara program stunting makin didalami semakin menarik. Tunggu laporan reportase (3).

spot_img

Headline

Populer

spot_img