23 C
Makassar
Selasa, April 20, 2021
BerandaEkbisKopi Pakka, Identitas Pecinta Kopi Orang Dulu

Kopi Pakka, Identitas Pecinta Kopi Orang Dulu

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Kopi merupakan salah satu olahan minuman yang terus digemari oleh berbagai kalangan sejak dahulu. Bahkan kopi sudah banyak memberikan kontribusi dalam nerubah gaya hidup seseorang.

Tanaman yang berasal dari Ethiopia tersebut berkembang cukup pesat sampai ke negara-negara lain yang ada di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

BACA: Ternyata Minum Kopi di Pagi Hari Bisa Turunkan Berat Badan

Sejarah perkembangan kopi di Indonesia juga tidak terlepas dari masa kelam kaum pribumi di masa Sistem Tanam Paksa, saat Hindia Belanda masih diduduki Kompeni.

Akan tetapi, sampai hari ini kopi justru menjelma sebagai olahan yang identik dan cocok untuk bercengkerama.

Tidak jarang kita melihat perkumpulan orang yang ditemani secangkir kopi di mejanya, baik dalam suasana bekerja maupun bersantai.

Seiring perkembangan zaman, berbagai jenis dan olahan kopi ramai bermunculan. Mulai dari kemasan praktis, berbagai campuran rasa, sampai dengan inovasi-inovasi terbaru.

Akan tetapi, orang-orang dahulu lebih akrab dengan kopi murni tanpa campuran dan diracik dengan takaran tertentu sehingga terasa lebih pekat.

Kopi pekat itulah yang kerap dijuluki “Kopi Pakka” oleh orang-orang Makassar. Hal itu juga dibenarkan oleh salah satu pegiat olahan kopi Pakka, Abdi.

BACA: Mari Beramal Sambil Minum Kopi di Sweetness 261

Abdi mengaku sangat tertarik mempertahankan kopi yang memiliki rasa pekat. Bahkan ia mengaku bahwa hal itu dipertahankan untuk menjaga identitas pecinta kopi orang-orang Makassar di masa lalu.

“Ya Kopi Pakka itu artinya kopi pekat. Jadi orang-orang dulu, menganggap bahwa identitas kopi itu ya pahit, pekat,” ujar Abdi saat ditemui reporter Sulselekspres.com.

Pakka sendiri merupakan bahasa Makassar yang berarti pekat. Itulah sebabnya Abdi rela merubah nama kedainya menjadi Kopi Pakka.

“Nama kedai saya dulu Kopi Rasari, tapi saya ganti jadi Kopi Pakka. Filosifinya sederhana, karena bagi orang dulu kalau tidak pahit bukan kopi namanya,” lanjutnya.

Pedagang yang berjualan di kompleks Pasar Segar itu mengaku bahwa dirinya tetap menjaga produk kopi Arabica murni dan memilih biji dari petani langsung.

“Kopi saya murni arabica, tidak pakai campuran. Saya ambil bijinya dari petani saya, ada di Enrekang dan Toraja. Kalau roastingnya saya sendiri, supaya rasa tidak berubah,” tegasnya.

Meski begitu, Abdi tetap berusaha menjaga selera konsumen dengan mengolah kopi menjadi berbagai jenis, tetapi masih mempertahankan kopi Pakka sebagai bahan dasar.

- Advertisment -

Headline