Rammang-Rammang, Simbol Sejarah Panjang Kehidupan Manusia

Jejak manusia di masa lalu tersebut, hingga kini masih bisa dinikmati oleh para pengunjung melalui tulisan tangan atau simbol-simbol yang ada di dinding gunung.

Sampah

Di tempat sama, Asisten Deputi Budaya, seni dan Olahraga Kemenkomar Kosmas Harefa juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten Maros untuk bisa menata kawasan Rammang-rammang menjadi lebih bagus lagi. Terutama, penataan dari sisi kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan.

Salah satu kafe dan penginapan di sekitar kawasan Rammang-rammang yang cukup banyak diminati pengunjung. Tarif yang dikenakan cukup murah, hanya Rp35 ribu per malam. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

“Kita harus belajar dari Malaysia dan negara tetangga lain di Asia Tenggara. Mereka pintar mengelola kawasan wisata karena bisa menjaga kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan. Padahal, dari segi sumber daya alam kalah jauh dari Indonesia,” ucap dia.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Maros Rahmat Burhanuddin yang hadir di Rammang-rammang, mengakui kalau tempat wisata tersebut masih butuh penataan lebih lanjut. Bukan karena untuk menarik wisatawan, kata dia, penataan harus dilakukan untuk menjaga situs bersejarah yang ada di dalam kawasan.

“Sekarang ini Rammang-rammang semakin diminati. Saat puncak kunjungan, wisatawan yang datang ke sini jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang,” ungkap dia.

Selain penataan, Rahmat mengaku, hingga saat ini persoalan sampah masih menjadi kendala yang utama dalam pengembangan kawasan Rammang-rammang. Hal itu, karena kawasan tersebut beroperasi sepanjang hari selama 24 jam.

“Di dalam kawasan ada perkampungan yang didiami warga sini. Meski penyewaan perahu untuk akses menuju dalam itu masih terbatas, tapi memang operasionalnya tetap berlangsung selama 24 jam,” jelas dia.

Rammang-rammang pertama kali dikembangkan pada 2014 oleh masyarakat di Desa Salenrang. Untuk menarik wisatawan, kawasan tersebut kemudian mulai dibuka untuk umum di tahun tersebut. Sejak itu, perkembangan Rammang-rammang terus menerus terjadi dan berlangsung cepat, terutama setelah kemudahan warga untuk mengakses informasi melalui internet terjadi di seluruh Indonesia.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Rammang Rammang Muhammad Ikhwan menjelaskan, terus berkembangnya kawasan wisata tersebut mulai terjadi setelah masyarakat bisa mengakses sosial media dengan sangat mudah.

BACA JUGA :  Ada Cinta Sejenis di Balik Kasus Mayat Terbakar di Maros

Saat akhir pekan datang, pria yang biasa dipanggil Iwan Dento itu bercerita, wisatawan akan berbondong-bondong datang dan jumlahnya bisa mencapai 600 hingga 700 orang. Dengan jumlah tersebut, tidak heran kalau kawasan Rammang-rammang menjadi sangat ramai dan produksi sampah menjadi naik berkali-kali lipat dari hari biasa.

“Tapi kita berusaha memberikan penyadaran informasi kepada warga setempat, terutama yang tinggal di dalam kawasan. Bagaimanapun, kawasan harus tetap dijaga dengan baik,” ungkap dia.

Iwan menyebutkan, ada sejumlah titik menarik yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, yaitu taman hutan batu kapur, telaga Bidadari, gua Bulu’ Barakka’, gua Telapak Tangan, gua Pasaung, sungai Pute dan kampung Berua.

“Tapi tentu saja tidak semua spot tersebut bisa didatangi sekaligus oleh wisatawan. Biasanya, mereka memilih salah satunya. Dan paling banyak adalah mereka menikmati gugusan pegunungan karst yang ada di tengah perkampungan warga,” jelas dia.