22 C
Makassar
Senin, Agustus 8, 2022
BerandaMetropolisPersekusi Hingga Pembubaran Unras Mahasiswa Papua di Makassar Oleh Ormas

Persekusi Hingga Pembubaran Unras Mahasiswa Papua di Makassar Oleh Ormas

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) menggelar aksi unjuk rasa meminta agar masyarakat Papua diberikan hak menentukan nasib sendiri di Fly Over, Jalan AP. Pettarani, Sabtu (1/12/2018).

Dalam aksi yang meminta nagara Indonesia untuk menjadikan Papua menentukan nasibnya tersebut. Para massa aksi diserang oleh sejumlah orang yang tidak dikenal. Mereka berteriak dan memukul peserta aksi.

Baca: Aksi Mahasiswa Papua Di Makassar Dibubarkan Ormas

Koordinator FRI WP, Nazer, mengatakan bahwa dalam aksi unjuk rasa yang meminta Belanda bertanggung jawab untuk menuntaskan proses dekolonisasi West Papua seperti yang dijanjikan tersebut sejumlah orang dari ormas tiba-tiba datang dan melakukan intimidasi terhadap peserta aksi.

“Saat aksi tadi, dari pihak ormas sendiri melakukan pembubaran dan pemukulan terhadap beberapa massa aksinya,” katanya, saat dikonfirmasi, usai menggelar aksi yang dibubarkan oleh kelompok ormas.

Dalam aksi unjuk rasa tahunan yang digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Papua tersebut sedikinya ada sekitar lima orang massa aksi yang menjadi korban persekusi dari ormas yang saat itu datang tiba-tiba.

Baca: Sebelum 1 Desember, Tindakan Persekusi Ormas Dialami Mahasiswa Papua di Makassar

Padahal, kata Nazer, saat ormas tersebut datang massa aksi yang juga menuntut Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) bertanggung jawab dam terlibat aktif secara aktif secara adil dan demokratis dalam penentuan nasib sendiri, pelurusan sejarah, dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua itu sedang membacakan tuntutannya dan setelah itu rencananya akan membubarkan diri dengan tertib.

“Mereka tiba-tiba datang, dan memukul mengakibatkan beberapa massa aksi mengalami luka lebab dan gores,” jelasnya.

Namun, yang pihaknya sesalkan adalah pihak kepolisian yang ada saat itu tidak mampu mengamankan beberapa orang dari ormas yang membubarkan masaa aski tersebut.

BACA JUGA :  Resmob Polsek Panakukang Bekuk Dua Pemuda Pelaku Curas

Korban dikeroyok oleh orang Tak dikenal

Salah satu korban penganiayaan, Ade, mengatakan bahwa sekitar pukul 14.00 Wita, saat dirinya naik ke atas Fly Over untuk membentangkan spanduk yang sejak awal disipakannya. Tiba-tiba orang yang sejak tadi mengikutinya tanpa alasan langsung langsung memukul dirinya.

Baca: Video: Saat Sebelum 4 Mahasiswa Dianiaya oleh Oknum Polisi di Asrama Mahasiswa Papua

Doa menjelaskan bahwa dirinya dikeroyok sekitar empat atau lima orang yang semuanya menutup muka dengan masker. Dia mengatakan saat itu dirinya diseret dan dipukul sehingga menyebabkan luka pada bagian tangannya.

“Saya dikeroyok kemudian dibawa ke Pampang dengan sepeda motor,” katanya, saat dikonfirmasi.

Dia menambahkan bahwa saat dia dikeroyok dan dipukul dengan menggunakan helm miliknya dan pukulan tangan. Sehingga, helmnya hancur dan badannya memar.

“Tangan luka, kepala memar, kaki kanan luka juga, karena semua diseret, leher belakang dan perut memar semua, sampai helem hancur karena dipakai memukul,” jelasnya.

Ormas Tidak Punya Kewenangan untuk Membubarkan Aksi

Sementara, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Azis Dumpa, mengatakan bahwa dalam hukum di Indonesia Ormas tidak punya wewenang untuk membubarkan aksi unjuk rasa. Apalagi,unras tersebut berjalan dengan damai, harusnya diberikan perlindungan.

“Kami minta pihak kepolisian menindak tegas ormas yang melakukan pembubaran itu. Karena, hal itu sudah membahayakan keamanan orang,” katanya.

Baca: Selain Mengaku Dianiaya, 4 Aktivis Mahasiswa Ditodong Dengan Senjata Oleh Oknum Polisi

LBH yang dalam hal ini dimintai bantuan hukum oleh massa aksi karena adanya pembubaran mengatakan, Ormas dilindungi karena adanya demokrasi, jadi tidak selayaknya atau melakukan hal yang bertentangan dengan demokrasi.

“Kami hanya melindungi hak demokrasi karena mereka meminta perlindungan hukum. Atau terhadap orang yang dilanggar hak demokratisnya,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kasus Buloa: LSM Basmi Minta Jaksa Dalami Keterlibatan Pejabat

Sebelum 1 Desember 2018, di beberapa Asrama Papua yang ada di Kota Makassar mendapatkan intimidasi dari beberapa Ormas. Bahkan, mengambil barang milik mahasiswa Papua dengan cara paksa.

Penulis: M. Syawal
spot_img

Headline